1.
Niat
Puasa Senin – Kamis
نويتصوميومالاثنينسنةللهتعالى
" NAWAITU SAUMA YAUMUL ISNAIN SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
“ Saya niat puasa hari Senin, Sunnah karena Allah
ta’ala.”
نويتصوميومالخميس سنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA YAUMUL KHOMIS SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
NAWAITU SAUMA YAUMUL KHOMIS SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
“ Saya niat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah
ta’ala.”
2.
Niat
Puasa Daud
نويتصومداودسنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA DAWUD SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
NAWAITU SAUMA DAWUD SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
“ Saya niat puasa Daud , sunnah karena
Allah ta’ala
3.
Niat Puasa Hari-hari
Putih .
نويتصومايامالبيضسنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA AYYAMI BIDH SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
NAWAITU SAUMA AYYAMI BIDH SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
“ Saya niat puasa pada hari-hari putih , sunnah karena
Allah ta’ala.”
4.
Niat Puasa Bulan Muharram
(Puasa ’Asyura)
نويتصومعشر سنةللهتعالى
“ Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah
ta’ala.”
5.
Niat Puasa Bulan Rajab
نويتصومشهررجبسنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA SYAHRI RAJAB LILLAHI TA'ALA
NAWAITU SAUMA SYAHRI RAJAB LILLAHI TA'ALA
“ Saya niat puasa bulan Rajab , sunnah karena Allah
ta’ala.”
6.
Niat Puasa Sya’ban
نويتصومشهرشعبانسنةللهتعالى
“ Saya niat puasa bulan sya’ban , sunnah karena Allah
ta’ala.”
7.
Niat Puasa Syawwal
نويتصومشهرشوالسنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAWWAL SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAWWAL SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
“ Saya niat puasa bulan Syawwal , sunnah karena Allah
ta’ala.”
8.
Niat Puasa Bulan
Dzulhijjah (Puasa Tarwiyah & ‘Arafah).
نويتصومترويهسنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”
نويتصومعرفةسنةللهتعالى
NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA'ALAH
“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
“ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
Sungguh,
puasa adalah amalan yang sangat utama.Di antara ganjaran puasa disebutkan dalam
hadits berikut, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh
manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh
ratus kali lipat.Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan
puasa.Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.
Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang
yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia
berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang
yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi”
(HR. Muslim no. 1151).
Puasa
Sunnah
|
Puasa
Wajib
|
|
Waktu
pelaksanaan
|
Beragam tergantung jenis puasa
sunnah yang dijalankan dan tidak boleh diqada.
|
Bulan Ramadhan saja dan pada waktu
tertentu untuk puasa nazzar dan qada.
|
Pembacaan
Niat
|
Hingga sebelum fajar naik.
|
Sebelum waktu sahur selesai.
|
Pembatalan
|
Boleh dibatalkan.Misalnya menerima
jamuan makan dari kerabat untuk menghormatinya.
|
Dilarang dibatalkan, kecuali darurat.Misalnya
datang bulan, sakit dsb.
|
Adapun puasa sunnah
adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula
puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang
terdepan (as saabiqun al muqorrobun). Lewat amalan sunnah inilah
seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam
hadits qudsi, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku
dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah
mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan
untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk
melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang,
memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon
sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan,
pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).
Pada kesempatan kali
ini, Kajian Muslimah mencoba membahas materi tentang puasa sunnah yang bisa
diamalkan sesuai tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga bermanfaat.
Perbedaan Puasa Sunnah dan
Puasa Wajib
Pengertian Puasa Sunnah
Puasa Sunnah adalah
puasa yang tidak diwajibkan untuk dikerjakan oleh umat islam tetapi jika
dilakukan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Banyak macam puasa sunnah
dalam Islam, semua puasa dalam islam dimulai pada waktu Subuh dan diakhiri
dengan berbuka puasa di waktu magrib. Islam tidak mengenal puasa ngebleng yaitu puasa beberapa hari sekaligus tanpa
berbuka puasa. Puasa dalam islam sangat dianjurkan untuk bersahur agar tetap
menjaga stamina dan kondisi tubuh. Dan dianjurkan untuk menyegerakan berbuka
puasa setelah adzan maghrib dengan makanan yang manis dan mentah seperti kurma
dan meminum air yang bersifat mensucikan.
Puasa mempunyai manfaat yang
sangat bagus bagi kesehatan tubuh dan kesehatan jiwa. Dengan puasa yang sesuai
dengan tuntunan Islam, insya Allah akan mendapat ridho dari-Nya dan pahala yang
akan kita dapat di samping manfaat kesehatan yang kita dapat secara langsung.
Ada banyak macam puasa sunnah dalam Islam, apa saja? Yuk kita bahas!
Macam-macam Puasa Sunnah
Macam-macam puasa Sunnah yang
telah dituntunkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
1. Puasa
Senin Kamis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis,
maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”
(HR. Tirmidzi no. 747.Shahih dilihat dari jalur lainnya).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan
berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR.An Nasai no. 2360 dan Ibnu
Majah no. 1739. Shahih)
2. Puasa
Daud
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud.Shalat
yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud.Beliau biasa tidur separuh
malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya.Beliau biasa
berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari no. 3420 dan
Muslim no. 1159)
Puasa Daud dikerjakan dengan
cara selang-seling yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak. Dalam pelaksanaan
boleh dipotong (tidak terus menerus), misalnya dipotong 1 bulan.
Syaikh Muhammad bin
Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,
“Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa
sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai
membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan
sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama.Karena ingat,
di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan.Jika banyak
melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak
memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.”
3. Puasa
Tiga Hari di Bulan Hijriyah (Ayyamul Bidh)
Dianjurkan berpuasa tiga
hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari
setiap bulannya?”‘Aisyah menjawab, “Iya.”Mu’adzah lalu
bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?”‘Aisyah
menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau
beliau).”(HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Shahih)
Namun, hari yang utama
untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang
dikenal dengan ayyamul bidh. Dari Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada
ayyamul bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” (HR.An
Nasai no. 2345. Hasan).
Dari Abu Dzar,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
padanya, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka
berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR.
Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Hasan)
4. Puasa
‘Asyura
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada
bulan Allah – Muharram.Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib
adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163). An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan
penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”
Keutamaan puasa ‘Asyura
adalah sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Abu Qotadah di atas.Puasa
‘Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berucap dan
bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak
bersendirian, namun juga diikutsertakan dengan puasa pada hari sebelumnya yaitu
9 Muharram yang disebut puasa Tasu’a.Tujuannya pengikut sertaan tanggal 9
Muharram adalah untuk menyelisihi puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab
(Yahudi).
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari
’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada
yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh
Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau mengatakan, “Apabila
tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula
pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai
tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah
lebih dulu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).
5. Puasa
di Bulan Sya’ban
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu
bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”(HR. Bukhari no. 1970
dan Muslim no. 1156).Yang dimaksud di sini adalah berpuasa pada mayoritas
harinya (bukan seluruh harinya) sebagaimana diterangkan oleh Az Zain ibnul
Munir. Para ulama berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan
berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa
selain Ramadhan adalah wajib.Puasa Sya’ban bertujuan untuk mempersiapkan diri
sebelum memasuki bulan Ramadhan namun tidak hanya dengan puasa saja tapi juga
disertai dengan amalan-amalan ibadah yang lainnya.
6. Puasa
Enam Hari di Bulan Syawal
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di
bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim
no. 1164) Namun dalam pelaksanaannya harus lebih didahulukan puasa wajib,
misalnya puasa qada baru setelahnya boleh melakukan puasa syawal.
7. Puasa
di Awal Dzulhijah
Dari Ibnu ‘Abbas,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi
amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul
Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah,
kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada
yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757,
Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih). Keutamaan sepuluh hari di
awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan
tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan
amalan sholih lainnya. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah
adalah amalan puasa.
Dari Hunaidah bin
Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram),
berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih).
8. Puasa
‘Arofah
Puasa ‘Arofah ini
dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan
puasa ‘Arofah. Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang
lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan
puasa ’Asyura. Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang
lalu” (HR. Muslim no. 1162). Dosa-dosa yang dimaksud adalah
dosa-dosa yang bisa dihapus (kecil) dan bukan dosa-dosa besar seperti membunuh
dan musyrik yang hanya bisa dihapus dengan taubat nasuha.
Sedangkan untuk orang
yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa ‘Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas,
beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau
pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750.Hasan shahih).
Ketentuan dalam Melakukan Puasa
Sunnah
Pertama
Boleh berniat puasa sunnah setelah
terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang
membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan
sebelum fajar.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan
bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.”Beliau
berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada
hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah
berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin, dan keju).” Maka beliau pun
berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.”
(HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalamShahih
Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan
niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan
bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”
Kedua
Boleh menyempurnakan atau
membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah di atas. Puasa sunnah
merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika
ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat
Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya.Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam
Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa
tersebut.
Ketiga
Seorang istri tidak
boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin
suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali
dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam
hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu.
Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram,
sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah.Sebab pengharaman tersebut
karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap
harinya.Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri.Dan tidak bisa
hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau
puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan”.Beliau rahimahullah menjelaskan pula, “Adapun jika si
suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa.Karena ketika suami tidak ada di
sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.”
Hari-Hari Makruh Berpuasa
1. Khusus
Hari Jum’at
kecuali kalau telah berpuasa
sejak hari sebelumnya.
Dari Abi Hurairah ra.,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mengistimewakan malam Jum’at untuk sembahyang
daripada malam-malam lainnya, dan jangan kalian mengistimewakan hari Jum’at
untuk berpuasa dan pada hari-hari lainnya, kecuali bagi seseorang di antara
kalian yang kebetulan harus berpuasa di hari itu”. (HR. Muslim)
Bahwasanya Rasulullah
saw bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kamu
berpuasa di hari Jum’at, kecuali ia berpuasa pula satu hari sebelumnya atau
sesudahnya”. (Muttafaq ‘Alaih)
2. Puasa
Wishal
yaitu seorang yang melakukan
puasa, tidak berbuka puasa hingga waktu sahur.
Dari Abi Hurairah ra.,
ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah melarang berpuasa tidak berbuka (wishal), maka
berkata seorang laki-laki dari kaum muslimin, “Tapi engkau berwishal ya
Rasulullah”. Beliau menjawab, ”Siapa di antara kamu yang
seperti aku, di waktu malam aku diberi makan dan minum oleh Allah”. Ketika
mereka enggan berhenti dari wishal, beliau ajak mereka berwishal satu hari,
kemudian satu hari lagi, kemudian mereka melihat hilal, lalu beliau
bersabda, “Kalaulah hilal itu lambat datangnya, aku akan
tambah wishal buat kamu”, sebagai pemberani pelajaran kepada mereka
tatkala mereka enggan berhenti dari wishal. (Muttafaq ‘alaih)
3. Puasa
Dahriya
yaitu puasa yang terus-menerus.
Dari Abdullah bin ‘Umar
ra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak dianggap berpuasa orang yang berpuasa selama-lamanya”.
(Muttafaq ‘alaih)
4. Isteri
Yang Puasa Sunnah tidak dengan izin suaminya
Dari Abi Hurairah ra,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak halal bagi wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di rumah,
kecuali dengan seizinnya”. (Muttafaq ‘alaih dan lafadz ini
dalam riwayat Bukhari; Abu Dawud menambah: “Kecuali puasa Ramadlan”.
Hari-Hari Diharamkan Untuk
Berpuasa
1. Hari
Raya ’Idul Fitri (1 Syawal)
Dari Abi Sa’id
Al-Khudlriyyi ra.: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fithri dan
hari Idul Adha (Muttafaq’alaih).
2. Hari
raya Idul Adha (10 Dzul Hiiiah)
Lihat dalil di atas.
3. Hari
Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzul Hijjah)
Dari Nubaitsah
Al-Hudzali ra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Hari-hari tasyriq itu adalah
hari makan dan minum, dan hari dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla”. (HR.
Muslim).
An Nawawi rahimahullah dalam Al
Minhaj Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari
setelah Idul Adha. Hari tasyriq tersebut dimasukkan dalam hari ‘ied.Hukum yang berlaku
pada hari ‘ied juga berlaku mayoritasnya pada hari tasyriq, seperti hari
tasyriq memiliki kesamaan dalam waktu pelaksanaan penyembelihan qurban,
diharamkannya puasa dan dianjurkan untuk bertakbir ketika itu.”
Dari dalil hari-hari haram
berpuasa ini, maka jelaslah bahwa kita diperbolehkan puasa kapan saja (dengan
memperhatikan hari/hal-hal yang dimakruhkan), kecuali pada hari-hari yang
diharamkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar